Dan inilah Penjelasan Mabes Polri atas aksi Pencegatan MOGE di Condong Catur Yogyakarta

11910756_10205343468838621_1855465184_n

Sebelumnya mimin memberitakan apa yang dilakukan pesepeda di Perempatan Condong Catur, Sleman Yogyakarta yaitu mencegat iring-irigingan MOGE agar berhenti saat lampu merah. Agar seimbang maka mimin juga menyertakan penjelasan dari Mabes Polri yang mengamankan acara konvoi moge tersebut. Sekarang manut sedulur semua, bagaimana menanggapinya. Yang penting jangan lupa JOGJA itu Istimewa!

 

Saat ini netizen dihebohkan dengan aksi yang dilakukan oleh bapak Elanto Wijoyono (32) dan rekan-rekannya yang melakukan penghentian secara paksa konvoi pengendara moge yang sedang melintas di Yogyakarta. Padahal demi keselamatan dan kelancaran lalu lintas di jalan raya, Polisi telah melakukan pengawalan sesuai dengan prosedur.
Sebelum memberikan komentar, mari kita fahami bersama penjelasan berikut.
Taukah Mitra Humas siapa saja pengguna Jalan yang memperoleh Hak Utama untuk didahulukan menurut Pasal 134 UU RI No 22 Tahun 2009 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan? Berikut urutan :
a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas;
b. Ambulans yang mengangkut orang sakit;
c. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada Kecelakaan Lalu Lintas;
d. Kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia;
e. Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara;
f. Iring-iringan pengantar jenazah;
g.Konvoi dan/atau Kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Kami sudah sering sosialisasi lho Mitra Humas, silahkan lihat postingan- postingan kami sebelumnya.
Nah, sesuai dengan urutan tersebut, maka pada huruf g, Polisi telah melakukan tugasnya dengan benar dan sesuai prosedur untuk melakukan pengawalan terhadap konvoi motor Harley tersebut.
“Mengenai voorijder itu, jadi pihak panitia (acara moge) sudah menghubungi kami. Mereka sudah mengantongi izin dan meminta pengawalan,” kata Kabid Humas Polda DIY AKBP Any Pudjiastuti dalam perbincangan, Minggu (16/8/2015).
Ada komentar bahwa Polisi hanya mengawal orang yang berduit saja? Itu tidak benar, seluruh masyarakat Indonesia berhak untuk mengajukan permohonan pengawalan, termasuk Mitra Humas.
Pengawal terhadap rombongan moge ini tidak beda dengan pengawalan Polisi kepada mobil jenazah, rombongan pengantin dan iring-iringan lainnya.
Ketika ada pengajuan permohonan pengawalan dari masyarakat, Polisi akan melihat, mempertimbangkan dan menentukan seperti apa pola pengawalan yang akan dilakukan dari adanya permohonan tersebut. Pengawalan ini sebenarnya bukan hanya bertujuan untuk mengamankan si pemohon pengawalan, namun juga pengendara lain di jalan raya dari adanya kegiatan tersebut.
Bayangkan betapa bahayanya ketika sebuah iring-iringan tidak dikawal Polisi?
Iring-iringan tersebut bisa berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas yang tentunya sangat membahayakan iring-iringan itu sendiri dan juga pengguna jalan lain diluar iring-iringan tersebut.
“Jadi itu bagian tugas kami untuk melayani masyarakat. Sudah ada aturannya sendiri itu,” ujar Any.
Dalam pelaksanaan pengawalan, Polisi juga memiliki kewenangan untuk melakukan tindakan diskresi Kepolisian.
Apa itu Diskresi Kepolisian ?
Menurut Pasal 18 ayat (1) UU RI No 2 Th 2002 tentang Kepolisian RI “Untuk kepentingan umum pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya dapat bertindak menurut penilaiannya sendiri”.
Artinya walaupun lampu lalu lintas menyala merah, Polisi dapat tetap memberikan kesempatan kepada peserta konvoi moge untuk tetap jalan. Hal ini dinamakan Pengaturan Lalu Lintas Dalam Keadaan Tertentu, sebagaimana terdapat dalam Pasal 1 angka 10 Perkap Nomor 10 Tahun 2012 tentang Pengaturan Lalu Lintas dalam Keadaan Tertentu dan Penggunaan Jalan Selain Untuk Kegiatan Lalu Lintas.
“Pengaturan Lalu Lintas Dalam Keadaan Tertentu adalah tindakan petugas dalam hal mengatur lalu lintas di jalan dengan menggunakan gerakan tangan, isyarat bunyi, isyarat cahaya dan alat bantu lainnya dalam keadaan tertentu”.
Nah sudah fahamkah Mitra Humas?

 

*source : fanspage DivHumasPolri (https://www.facebook.com/DivHumasPolri)

temon

temon

life is like a bag of chocolate
  • Syeh Abdul Hakimp

    nerobos lampu merah , seandainya terjadi kecelakaan ? bagaimana dengan nyawa orang lain jon ??? use you brain lah …..

  • must

    moge-moge kagak celaka aja tu yg melanggar…

  • azis mandiri

    Hehh jon jangan bodoh dong. Kalo nerobos lampu merah trus ada kake2 nyebrang trus d tabrak sama pengrndara moge apakah polisi akan menyalahkan hal tersebut pada kake2 itu.
    Mikir pakek otak jon jangan pakek pantat.
    Kalo emang untuk d terobos cabut aja itu tiang lampu merah. Kiloin aja itu besi nya lumayan dapet penghasilan dari pada korup hasil nilang sembarangan.

  • Adhysti Putri Maharani

    Maaf pak polisi, tapi poin G pada pasal tersebut masih ada penjelasan yg berbunyi “yang dimaksud dalam “kepentingan tertentu” adalah kepentingan yang memerlukan penanganan segera, antara lain : kendaraan untuk penanganan ancaman bom, kendaraan pengangkut pasukan, kendaraan untuk penanganan huru hara, dan kendaraan untuk penanganan bencana alam”
    So? Sepertinya penjelasan pasal cuma jadi pelengkap penderita bagi bapak-bapak yg naik motor gede kemaren. (Saya merasakan sendiri ugal-ugalannya, karena kebetulan kemarin sy sedang di Jogja).

  • Joko Oetomo

    Ijin Melengkapi min Penghadangan Konvoi Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) di Jogjakarta dan kronologinya
    https://www.youtube.com/watch?v=cYcWLOVbR2A

  • PREMAN B’SERAGAM

    bapak2 berseragam ini cuman mau menangnya sendiri,mana ada uang yea tu yang di bela??
    preman berseragam emang lbih kjam dari pda ibu tiri…NEK gua liatnya,MUNAFIK