Museum Ullen Sentalu: a place to remember

arca koleksi Museum

Ullen Sentalu: “Ulating blencong sejatine tataraning lumaku

Masih seperti dulu, penampakan museum ini masih terasa lebab dan basah karena hujan dan udara digin gunung. Akar tanaman dan pepohonan rungkut menutupi museum dari jalan utama. Menambah kesan terasing di mata.

Saya pertamakali kemari bersama mas pacar yang sekarang sudah menjadi pasangan saya di awal tahun 2008. Inilah tempat teromantis selama kami berpacaran. Dan kemarin saya kembali bernostalgia, tidak lagi bersamanya tapi bersama dengan sepasang nganten baru yang sedang menikmati waktu bersama. Mbak Hilya dan Mas Noval.

relief miring di museum ullen sentalu
Relief koleksi Museum Ullen Sentalu

Masih segar dalam ingatan saya, suasana romantis dalam bangunan museum ini. Museum Ullen Sentalu memang tidak banyak menyajikan benda-benda yang bisa disentuh layaknya museum lainnya. Namun museum ini menyajikan sesuatu “intangible” tentang kerajaan Mataram. Bukan kisah tentang perjalanan sebuah dinasti, melainkan cerita tentang pribadi-pribadi dan budaya yang ada dalam keluarga keraton Mataram.

Kita juga tidak diperbolehkan berkeliaran sendiri dalam museum. Seorang pemandu akan menemani kita menyusuri lorong-lorong bawah tanah dan ruang-ruang sejarah yang dibangun diatas kolam ikan, bercerita tentang sosok dan budaya dalam keraton yang sudah dibingkai dalam kanvas lukisan cantik.
Ya, hampir semua sosok sejarah di museum Ullen Sentalu tertuang dalam kanvas lukisan. Permaisuri, putri, dan raja keraton Mataram terbingkai dalam kanvas ukuran raksasa.

Banyak sekali ruangan di museum ini, masing-masing ruang menyimpan kisah sendiri. Ada beberapa ruang yang berkesan bagi saya, ruang “Syair untuk Tinneke”, ruang “Gusti Nurul Kusumawardhani,” dan ruang pamer batik.

Kesan ketika datang pertamakalinya ke suatu tempat memang lebih lekat dihati dan ingatan, kesan kedatangan selanjutnya pasti berbeda. Perbandingan selalu ada, dan hal sekecil apapun yang berbeda akan mengusik nostalgia kita tentang sebuah tempat.

Perbedaan terasa ketika saya memasuki ruang-ruang yang ada di Ullen Sentalu, serasa hambar meski ada beberapa perubahan tata ruang dan tambahan koleksi. Dulu saya merasakan aura romantis dan mistis ketika menatap lukisan-lukisan yang tergantung, ada beberapa kembang setaman yang ditaruh di sekitar lukisan dan koleksi arca batu. Suasana itu membuat saya merasa berada di tempat teristimewa di keraton karena waktu itu belum banyak orang yang tau keberadaan museum ini.
Kedua, minuman resep ratu mas yang disuguhkan tak seperti dahulu rasanya, miskin rasa. Saya tidak merasakan keberadaan daun kayu manis, pandan, dan cengkeh, hanya rasa jahe dan gula jawa yang dominan 🙁 sangat disayangkan. Padahal minuman khas keraton ini sangat pas dengan udara dingin Kaliurang.

Ketiga, tiket masuk museum khusus pelajar ditiadakan 🙁
Meski sudah kadaluarsa, status saya masih pelajar karena belum diwisuda :D, dulu saya menggunakan tiket pelajar seharga IDR. 10.000 saja. Sekarang, saya harus mengeluarkan 25.000 untuk merasakan kedalaman suasana museum.

Museum, memang tempat bagi keusangan, namun segala yang telah usang akan kembali baru jika sering diceritakan

NonaPelantjong

NonaPelantjong

Entrepreneur sosial I Pewarta warga I Tukang jalan-jalan I Terobsesi membuat travel documentary Indonesia I www.nonapelantjong.blogspot.com
  • Dede Supriatna

    wihiii jogjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkkkkkkk